Bachtiar Aly: Masyarakat Tidak Perlu Fanatik Dalam Memilih Pemimpin

Jakarta - Anggota DPR RI Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA mengatakan secara historis martabat Indonesia cukup tinggi dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. 

Respon Indonesia atas negara lain, misalnya dukungan kepada gerakan kemerdekaan Palestina, gerakan Non-Blok, sikap atas tragedi kemanusiaan Rohingnya bukanlah sekedar sikap membuntut dan ikut-ikutan. 


Hal itu dilakukan karena merupakan realisasi amanat UUD 1945. Hal ini terutama ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945.

Hal itu dikatakan Bachtiar Ali pada acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Fakultas Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Ia mendukung kegiatan ini dilaksanakan untuk mensosialisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar agar dapat difahami secara utuh dan tidak parsial dalam merealisasikan visi dan misi Indonesia agar lebih maju dan bermartabat. 

Dalam pembukaan UUD 45 alinea pertama berbunyi Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. 

Ditambahkan pada alinea keempat Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Karena itu, misi perdamaian dunia ini merupakan komitmen abadi sejak pertama Republik Indonesia didirikan dengan doktrin kebangsaan dalam UUD 1945 yang anti imperialisme, anti kolonialisme, dan anti feodalisme.

Komitmen ini bahkan telah menjadi model yang menginspirasi negara-negara lain untuk bangkit dalam mewujudkan kemerdekaan maupun perdamaian.

“Indonesia memiliki doktrin kebangsaan yang jelas. Dengan empat pilar ini,  Indonesia menjalani sejarah panjang sedemikian rupa sehingga menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia," kata Dubes Indonesia untuk Mesir tahun 2002-2005.

Untuk konteks penyelenggaraan negara, kata politikus Partai Nasdem ini lanjut, meski dengan kompleksitas bangsa yang sangat plural, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang melakukan pemilihan langsung secara serentak. Dengan ini indonesia menjadi model sehingga terus menjadi pembelajaran dunia.

Terlepas dari fakta Indonesia sebagai inspirator perdamaian dan kemerdekaan dunia dalam sejarah, Bachtiar Aly justru merasa prihatin dengan nasib situasi internal bangsa di tengah munculnya beragam konflik dan pudarnya tenunan silaturahmi bangsa terutama dalam suasana menyambut Pemilu Presiden 2019 yang penuh dengan penyebaran hoax yang meresahkan.

Bachtiar yang juga menjabat Penasihat Ahli Kapolri ini menyayangkan seringnya media lebih memilih mengeskpolitasi konflik daripada muatan informasi lainnya. Ia mengaku khawatir terhadap penggunaan konflik sebagai daya tarik komoditi pemberitaan.  

Adanya agenda setting media untuk terus mendaur ulang konflik membutuhkan mental yang matang dari masyarakat, apalagi tokoh-tokoh panutan masyarakat. 

“Kalau para panutan tidak kuat mental, semua akan direspon, meskipun untuk hal-hal yang tidak perlu,” katanya 

Menurut Bachtiar, masyarakat harus move on dari situasi memelihara konflik, tidak mudah tersulut emosi, namun mengedepankan dialog dan unsur argumentasi. 

Perbedaan dalam memilih adalah hak konstitusi, wajar-wajar saja dan tidak perlu berlebihan, sehingga tidak perlu merusak rajutan silaturahmi yang ada. 

“Masyarakat tidak perlu fanatik dalam memilih pemimpin,” tutur Bachtiar. @Rudi

Related

Nasional 6152076292202841351
jasa-laundry-kiloan
Ajang Berita
Menyajikan liputan isu sosial, teknologi, pangan, UMKM, dan gaya hidup lokal dengan artikel informatif, inspiratif, dan analisis mendalam.
www.ajangberita.web.id
Baca Sekarang    

catering-nasi-box
Jasa Bor Sumur Air Tanah
Saat Anda memerlukan solusi untuk masalah air tanah di rumah atau tempat usaha, kami siap membantu Anda.
solusi-air-tanah.com
Lihat Layanan    

Hubungi kami

Nama

Email *

Pesan *

Jumlah Pengunjung

item